Lika-Liku Tommy , Owner Cafe Canai Mamak

Bermodal Rp 100 ribu, kini Canai Mamak meraup pendapatan kotor hingga Rp 260 juta per bulan. Inilah lika-liku hidup Tommy, pemuda lajang pemilik Canai Mamak yang pernah menjadi nelayan dan petani nilam. 

Waktu berbuka puasa belum tiba. Namun, café di tepi Jalan Teuku Umar, Banda Aceh, itu penuh sesak. Pengunjung tua muda duduk di kursi aneka warna menanti pelayanan mengantar makanan untuk berbuka puasa. Ada pula pengunjung yang asyik memelototi komputer jinjing yang terhubung dengan fasilitas internet gratis yang disediakan kafe itu.

Zamzami adalah otak dibalik kesuksesan itu. Ketika ditemui The Atjeh Post beberapa waktu lalu, pria lajang yang akrab dipanggil Tommy itu tampil sederhana. Mengenakan kaos oblong dipadu celana jeans biru dan sepatu sport, ia tak terlihat seperti seorang toke.
Jiwa bisnis Tommy tampaknya turun dari orang tuanya. Lelaki kelahiran Desa Bluek Gle Cut, Indra Jaya, Pidie ini sejak kecil sudah ikut orang tuanya berjualan di warung kopi. Ketika Tommy mulai masuk sekolah dasar, orang tuanya yang telah pindah ke Banda Aceh membeli sebuah toko yang dijadikan warung kopi.

Karena sibuk membantu orang tuanya berjualan, buah hati pasangan Ramli dan Bahariah ini terpaksa bolos sekolah karena harus membantu orang tua berjualan. Warung kopi orang tua Tommy kini telah diwariskan kepadanya. Tempatnya, ya di lokasi kafe Canai Mamak saat ini.

Saban hari waktu Tommy tersita di warung kopi. Ia pun terpaksa mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi pemain sepakbola terkenal karena tidak mendapat dukungan dari orang tuanya.

Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Tehnik Menengah (STM) pada 1996, Tommy mengadu nasib ke Medan, Sumatera Utara. Di sana, lelaki kelahiran 1977 ini sempat menjadi nelayan di perairan lepas Gembion, Belawan.

Tak betah menjadi nelayan, beberapa bulan kemudian Tommy kembali ke Aceh. Kali ini, ia menjadi petani nilam di desa Gunong Geurutee, Aceh Jaya. Lagi-lagi Tommy tak betah berlama-lama di kaki gunung Geurutee.

Pada 1998, Tommy  kembali ke Banda Aceh. Ia memilih berjualan martabak telur di sebuah gerobak dorong yang dibeli dari hasil memanen nilam. Untuk lokasi, ia mangkal di depan kedai kopi ayahnya.

Setahun kemudian, sang ayah meninggal dunia. Sejak itu, kehidupan Tommy berubah. Apalagi, ia harus menjadi tulang punggul keluarga sepeninggal ayahnya.

Tahun 2000, lelaki berkumis tipis nekat mengadu nasib ke negeri jiran, Malaysia, meninggalkan ibu dan tiga adik perempuannya. Kedai kopi milik almarhum sang ayah serta gerobak tempat ia berjualan akhirnya  disewakan. Dari uang hasil sewa toko itulah  ibu dan adiknya bertahan hidup.

Di Kuala Lumpur, Tommy gonta-ganti profesi: mulai dari buruh bangunan, jualan di kedai kelontong, jualan mie Aceh hingga bekerja di restauran Azirawatti Daman Sara Damai, milik warga Malaysia-Melayu.

Tsunami di akhir 2004 membawa Tommy kembali ke Aceh. Di luar negeri ia mendengar kabar  kampungnya luluh lantah diterjang ombak laut yang mengganas. Tommy resah. Ia teringat nasib ibu dan tiga adik perempuannya. “Apalagi komunikasi lewat telepon saat itu susah sekali,” kata Tommy.

Tak ada jalan lain. Tommy memutuskan angkat kaki dari Kuala Lumpur dan pulang ke Aceh. “Alhamdulillah, keluarga selamat semua,” ujarnya.

Di Banda Aceh, Tommy tak punya pekerjaan tetap. Sementara, tabungan dari hasil kerjanya di Malaysia mulai habis. Di sisi lain, kebutuhan hidup mulai mendesak. Tommy pun putar otak. Akhirnya, ia memutuskan kembali menekuni usaha yang pernah digelutinya sebelum merantau ke Malaysia yaitu berjualan martabak telur dan roti cane.

Bermodal uang Rp 100 ribu, Tommy membeli tepung dan beberapa bumbu lain. Gerobak dorong yang sempat disewakan ke orang lain difungsikan kembali. Di gerobak itulah Tommy membuka usaha martabak yang dinamai Canai Mamak. Nama ini terinspirasi dari pengalamannya bekerja di Kuala Lumpur. “Di Kuala Lumpur, ada canai yang dibuat oleh seorang perempuan India muslim yang biasa dipanggil Mamak," kata Tommy.

Insting bisnis Tommy tak salah. Perlahan usahanya berkembang. Ia pun kembali mengfungsikan toko milik orang tuanya yang sempat disewakan ke orang lain. Pada 2007, ia kembali menyewa satu pintu toko di samping gerainya. Jadilah Canak Mamak menempati tiga pintu ruko yang didesaian dengan pernak-pernik ala Malaysia. 

Ada beragam jenis canai aneka rasa ditawarkan di Toko Canai Mamak, yakni Canai gula, canai coklat, canai serikaya, canai kosong kecil, canai kampung, dan canai durian yang hanya tersaji di musim durian.

Selain canai, juga ada roti kari ayam khas Kuala Lumpur, roti telur bawang, teh tarek, jus kacang hijau dan masih banyak lagi menu-menu yang menggugah selera. Soal harga jangan khawatir, cukup hanya dengan merogoh uang saku Rp 6000 per porsinya.

Kini, saban hari Tommy mampu meraup pendapatan kotor berkisar Rp 7 – 10 juta. “Pendapatan kotor per bulan sekitar Rp 250 juta – 260 juta,” ujarnya.

Usaha keras Tommy berbuah manis. Café Canai Mamak telah memuluskan hidupnya. Dari usahanya, kini Tommy mengendarai mobil Honda CR-V keluaran terbaru. Ia juga berencana merehab rumah orang tua dan membangun rumah terpisah untuk keluargannya sendiri. Lho, bukannya masih lajang? "Belum ada calon sih, baru sedang mencari," ungkapnya sembari tersenyum kecil.
Sumber: Atjehpost.com


Miliarder Asal Inggris ini Buta Aksara

Andreas Panayiotou memiliki kerajaan properti senilai 400 juta poundsterling  (Rp 5,5 triliun) dan menduduki peringkat 200 orang terkaya di Inggris. Pada Jumat pekan lalu, dia membuat pengakuan mengejutkan.
"Saya tidak bisa membaca," katanya."Saya melatih pikiran agar memiliki daya ingat kuat. Kita jadi lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah karena pikiran kita dipaksa bekerja".

Ayah lima anak itu bukannya tidak mau belajar membaca. "Waktu kecil saya berusaha keras agar bisa membaca," kata lelaki 45 tahun itu. Dia memutuskan berhenti sekolah pada umur 14 tahun. Di luar masalah disleksia, Panayiotou tak membantah bahwa dia benci membaca waktu masih kecil. "Jadi setelah dewasa saya punya cara tertentu untuk menghindarinya."

Jadi dia memiliki trik khusus untuk mengakali kelemahannya itu. "Saya memiliki daya ingat yang luar biasa, photographic memory. Saya mengenali bentuk untuk mengenali sebuah kata, tanpa perlu bisa membaca," ujarnya.
Di jalan misalnya, selain menghapalkan tanda lalu lintas, dia menghapalkan bentuk kata nama jalan ataupun nama kota. Sayangnya, trik itu tidak berlaku pada setiap hal. "Kalau ada nama belakang baru yang saya tidak mengenali, saya tidak mungkin bisa. Begitu juga dengan mengisi formulir seperti paspor. Itu area terlarang saya," ujar lelaki yang pernah menjadi petinju itu.

Meskipun memiliki kekurangan seserius itu, dia berhasil membangun sebuah kerajaan bisnis yang mengagumkan. Di usia muda, anak imigran Yunani itu membeli sebidang tanah kecil di Islington. Pelan-pelan dia membangunnya menjadi gedung apartemen. Dari situlah bisnisnya berkembang. Pada tahun 2007, dia berhasil menjual ribuan rumah. Kini fokusnya beralih ke hotel.

Perusahaannya, The Ability Group, kini memiliki tujuh hotel. Yang paling gres adalah Hotel Waldorf-Astoria London senilai 70 juta poundsterling (Rp 979 miliar). Dia juga akan menjual "rumah termahal di Inggris", sebuah properti yang baru direnovasi di Hamstead. Dia berharap rumah itu laku dengan harga 100 juta poundsterling (Rp 1,3 triliun). Rumah pribadinya di Epping Forest seluas 8 hektare. Dia juga memiliki tiga pesawat pribadi dan sebuah kapal pesiar.

Dia yakin kesuksesannya adalah gara-gara disleksia karena dengan kekurangannya itu, dia harus melatih diri untuk bekerja lebih keras dibandingkan orang lain. "Semuanya, dorongan kuat untuk membuktikan bahwa saya berarti, kedisplinan yang sangat ketat, dan kebanggaan atas yang sudah saya capai merupakan hasil dari perasaan malu dan kurang yang saya alami karena tertinggal dibanding anak-anak lain yang bisa membaca," Panayiotou mengaku.

"Dengan membalik disleksia, Anda berhasil mengembangkan bakat lain. Saya melatih pikiran agar memiliki daya ingat kuat. Kita jadi lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah karena pikiran kita dipaksa bekerja untuk memahami yang terjadi di sekitar kita.""Pikiran kita selalu berusaha, berusaha, dan berusaha. Kita jadi lebih kuat karena belajar mengatasi masalah merupakan bagian dari kehidupan," tuturnya.

Panayiotou kini terlibat aktif dalam kampanye untuk mengatasi buta huruf. "Kemampuan membaca merupakan hal pokok seperti makan," pungkasnya. 
Sumber: Kompas.com

Tarmizi, Miliarder Asal Aceh

Dari Pidie, ia berangkat ke Banda Aceh dengan modal Rp 1,5 juta. Kini, dari sejumlah bisnis yang digeluti ia meraih omset hingga Rp 2 miliar setiap bulan. Menariknya, usaha itu berkembang tanpa pinjaman uang bank.
 
Hari masih pagi ketika seorang lelaki turun dari mobil grand vitara warna putih yang diparkir di depan warung. Di dalam warung, pengunjung belum terlalu ramai. Hanya terlihat beberapa orang sedang menikmati secangkir kopi sambil sarapan pagi. Di luar, lalu lalang kendaraan mulai riuh rendah di perempatan Simpang Surabaya, Banda Aceh. Ketika matahari merambat naik, yang datang kian ramai.  Lalu lalang mobil dari empat penjuru di jalan raya tak mengurangi kenikmatan mereka sarapan. 

Begitulah pemandangan sehari-hari di Dhapu Kupi, warung kopi 24 jam yang memakai tiga pintu toko dan menjadi salah satu tempat ngopi favorit di Banda Aceh. Hampir sepanjang hari, dari pagi hingga tengah malam, warung ini tak pernah sepi pengunjung. Ada saja yang datang untuk sekedar menikmati secangkir kopi atau janjian dengan teman.

Pagi itu, akhir pekan lalu, Tarmizi sang pemilik warung bergabung dengan beberapa orang dalam satu meja. Mengenakan baju putih, Tarmizi larut dalam obrolan santai bersama pengunjung. "Mereka rakan Dhapu Kupi. Mulai dari pengusaha, pengawai negeri dan notaris, sebelum ke kantor ngopi dulu disini," kata Tarmizi yang akrab disapa Bang Midi.

Pagi adalah jadwal rutin bagi  Midi mengunjungi gerai kopi miliknya.  Jika mencari Tarmizi, gampang. Cari saja mobil grand vitara putih bertulisan Dhapu Kupi di bagian sampingnya. Itulah mobil milik Midi yang dibeli dari hasil usahanya.  Tak hanya itu, dari kerja kerasnya membangun bisnis dari nol, di usia 44 tahun, Tarmizi telah meraup omset mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Jiwa dagang pria ramah itu turun dari orang tuanya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Tarmizi sering menemani orang tuanya berjualan barang-barang kelontong di Simpang Tiga, Pidie. Dari situlah ia pelan-pelan mengenal seluk-beluk berdagang.

Ia mulai merintis usaha sendiri sejak masih duduk di bangku kuliah pada Fakultas Ekonomi Universitas Syiah  Kuala, Banda Aceh, tahun 1989. Ketika itu, sebagai mahasiswa ia menyewa satu kamar kos di Perumnas Lingke, Banda Aceh. Kebetulan, di samping kamarnya ada satu kios kecil. Melihat ada peluang usaha, Midi nekat menyewa kios itu. Modalnya? “Saya minta pinjam dari orang tua sebesar Rp 1,5 juta,” kata Midi.

Jadilah Midi kuliah sambil berusaha. Setiap hari, ia turun tangan langsung melayani pembeli. Bahkan ia tak sungkan mengantar barang pesanan langsung ke rumah pembeli. Menggunakan sebuah vespa ia ikut mengantar telur atau beras pesanan warga kompleks tanpa dikenakan biaya tambahan.

Pelayanan lebih itulah yang membuat kios Midi kebanjiran pelanggan. Usahanya berkembang pesat. Tak berapa lama, Midi mengembangkan sayap bisnis dengan membuka empat kios di tempat lain. Masing-masing kios dikelola adiknya.

Pada 1995, ia membuka usaha grosir Istana Telor di Pasar Aceh. Ia melayani penjualan telur ayam dalam partai besar.  Tahun 2002, Midi membuat tonggak baru dalam perjalanan bisnisnya. Ia membuka sebuah mini market di depan Masjid Raya. Namanya ditabalkan sebagai nama usaha: Mizi Market.

Kini, kelima kios miliknya sudah berubah menjadi minimarket. Bisnis dagangan sudah mulai menyegarkan hidupnya. Tahun 2008, dari hasil jerih payahnya, ia membeli toko di Simpang Surabaya tanpa pinjaman uang bank. “Sampai sekarang saya belum pernah pinjam uang bank untuk usaha,” ujarnya.

Toko itulah yang kini dijadikan Dhapu Kupi. Warung kopi sebenarnya adalah bisnis yang asing bagi Midi. Ia sama  sekali tidak tahu soal seluk beluk warung kopi. Namun, pengalaman buruk di sebuah warung membuatnya bertekad membuka warung dengan pelayanan lebih baik. Ceritanya, suatu malam, Midi diajak seorang kawan nongkrong di warung kopi. Malam itu mereka tidak langsung mendapat tempat duduk, melainkan harus antri menunggu meja kosong. “Dari situlah saya termovitasi untuk membuka warung kopi,” kenang Midi.

Dhapu Kupi menawarkan warna baru dibandingkan warung kopi yang lain di Banda Aceh. Dirancang dengan konsep terbuka, pengunjung bisa menikmati suasana jalan simpang empat Simpang Surabaya dari lantai dua selama 24 jam. Menariknya, dari Dhapu Kupi, konsep warung kopi dua lantai menjalar ke tempat lain.  "Kami yang pertama berhasil membawa pelanggan duduk di lantai dua." Kini, hampir semua warung kopi di Banda Aceh menyediakan kursi dan meja untuk pelanggannya di lantai dua.

Melihat bisnis warung kopi yang menjanjikan, Tarmizi nekat membuka cabang di daerah Punge. Meski sibuk di bisnis kopi, ia  masih juga menyempatkan diri mengurus bisnis minimarketnya.

Tarmizi mengaku tidak punya kiat khusus dalam mengelola sejumlah bisnisnya.  Dia menjalaninya seperti air mengalir. Di semua bisnisnya, kini Midi hanya mengontrol dan mengatur pengelolaan. "Pasti ada hambatan sana-sini, jadi harus pandai mencari celah. Jadi jangan dipaksakan, kita jalani saja kalau nanti sudah mentok kita geser ke samping," ujarnya.

Dari bisnis minimarket dan warung kopi, Midi kini menampung 49 tenaga kerja. Baginya, membuka peluang kerja bagi orang lain merupakan kebahagiaan tersendiri. Itu sebabnya, menjadi pegawai negeri tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya.

“Cita-cita saya hanya ingin membuka lowongan kerja dan menyejahterakan karyawan,” kata Tarmizi.

Sumber: Atjehpost.com


Kisah Sukses Billioner Pendiri Bank Mega dan Pemilik Stasiun TV Trans Corp

Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Bermula dari awal kuliah di jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Biaya masuk kuliah kala tahun 1981 sebesar Rp 75 ribu, dengan uang kuliah per tahun Rp 45 ribu. Rupanya, untuk membayar uang kuliah tersebut, sang ibu sampai harus menggadaikan selembar kain halus.

“Saya betul-betul terenyuh dan shock, sejak saat itu saya bersumpah tidak mau meminta uang lagi ke orang tua,” kata dia pada pertengahan Januari 2009 ini.

Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, – setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega – menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai “The Rising Star”. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.

Kini Grup Para mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Mega Capital Indonesia. Kedua, gaya hidup dan hiburan seperti Trans TV, Trans7. Ketiga berbasis sumber daya alam.

Sumber: http://www.kumpulberita.com

Ralph Lauren Memulai Bisnis Fashion dari Dasi

Nama Ralph Lauren menjadi salah satu selebritis terkaya di dunia versi Forbes 2010. Namanya disejajarkan dengan Steven Spielberg dan Oprah Winfrey. Kesuksesan Ralph ternyata tak lebih dari kehebatannya menjual mimpi.

Ralph Lauren, pria kelahiran Bronx, 14 Oktober 1939 ini adalah sosok yang sangat optimis. Ini terbukti ketika ia belum menjadi perancang busana ternama dunia. Suatu kali, di saat usianya masih remaja, Ralph pernah miris saat ingin membeli sebuah jacket yang sangat dikagumi. Karena, harga jacket itu sangat mahal.
Meski demikian, ia tetap saja membeli jacket itu dari uang yang ia tabung dari pekerjaan sampingannya di luar sekolah. Mengapa ia membeli jacket itu, sekalipun mahal? Inilah yang menjadi pertanyannya, apa yang membuat jacket itu sedemikian mahalnya? Itulah yang kemudian menjadi motivasi besarnya di kemudian hari. Yang jelas, Ralph yang waktu itu masih berusia 12 tahun, mengaku kelihatan sangat keren dan percaya diri setelah mengenakan jacket itu.

Dari sini, keinginan Ralph untuk menjadi desainer mulai bangkit meskipun sebenarnya impian itu masih sangat jauh dari kenyataan. Namun, mengingat Ralph berasal dari keluarga kelas menengah di Amerika, impian besar itu bisa jadi hanyalah sebuah mimpi yang terlalu muluk-muluk.

Namun, Ralph terus berupaya untuk mewujudkan impiannnya itu dengan bekerja keras. Meski ketertarikannya pada fashion sangat kuat, namun ia memilih untuk kuliah bisnis City College, Manhattan. Malam dia kuliah, sementara siang dia bekerja di Brooks Brothers, sebagai salesman sarung tangan. Sayangnya, dia drop out setelah dua tahun kuliah.

Polo
Setelah tamat dengan cepat, Ralph bekerja di perusahaan clothing A. Rivetz & Co. Ketika bekerja di perusahaan ini, Ralph mulai merancang produknya sendiri, yakni dasi. Dengan pinjaman sebesar 50 ribu USD, Ralph kemudian membuka perusahaan sendiri bernama Polo Fashions, di tahun 1968. Nama Polo sendiri, disepakatinya bersama saudaranya yang juga bekerjasama dengannya untuk merancang produk dan membesarnya brand tersebut.

Polo sukses dan menjadi mesin uang untuk kerajaan bisnis Ralph di kemudian hari. Dia menganggap dirinya sebagai orang yang beruntung dengan kemasan dan persentase yang ia buat dengan Polo. Sebuah pencapaian yang tidak didapatkannya saat kuliah bisnis.

Polo menjadi brand utama di sederetan brand fashion untuk pria pada dekade 1980-an –bahkan sampai kini. Tak mudah bagi Polo untuk mempertahankan imejnya waktu itu, apalagi perancang yang juga memiliki nama besar, Emporio Armani, hadir dengan konsep busana pria dari Italia. Tapi, Ralph tidak kehilangan akal.

“Saya tidak ingin kelihatan seperti Armani hari ini atau besok. Saya akan tetap kelihatan seperti Ralph Lauren. Dan tujuan saya ialah bergerak secara konstan di fashion dengan style yang saya buat. Tanpa menyerah mewujudkan mimpi saya,” ujar pria berdarah Yahudi ini suatu kali seperti dikutip Askmen.

Ralph terus menciptakan inovasi dengan merilis beberapa produknya berupa kemeja dan jas pria yang ia produksi di pabriknya sendiri. Ralph juga cerdas. Ia berhasil menciptakan produk elegan untuk pria-pria eksekutif. Busana pria rancangannya menjadi trend kalangan eksekutif, bukan hanya waktu tapi juga sampai sekarang.

RL for Ralph Lauren
Polo adalah simbol kesuksesan Ralph. Dengan brand yang pada tahun 1972 resmi menggunakan logo Polo, dia memenangkan penghargaan COTY Award, tahun 1970, yakni penghargaan untuk perancang busana pria terbaik. Di tahun yang sama, Polo juga menjadi style busana yang dikenakan pada film karya penulis besar Fitzgerald Gatsby, “The Great Gatsby”.

Sukses dengan Polo, Ralph kemudian melebarkan sayap bisnisnya dengan merancang busana untuk kalangan wanita. Dia memproduksi setelan jas wanita dengan menggunakan style klasik seperti pada desain jas pria. Selain itu, dia juga merancang home furniture dengan brand yang menggunakan namanya sendiri. Tahun 1984, dia mentransformasi Rhinelander Mansion milik fotografer Edgar de Evia dan Robert Denning, menjadi toko yang mengibarkan bendera Polo Ralph Lauren.

Di tahun yang sama, de Evia juga memotret sampul majalah artikel yang memuat cerita House & Garden, di kediaman Ralph di Round Hill, Jamaica. Rumah ini kemudian dijadikan sebagai Babe and Bill Paley, sebagai salah satu wujud dan mimpi Ralph menggabungkan konsep fashion dengan furniture.

Menjual mimpi. Itulah sebenarnya bisnis yang dijalankan Ralph. Beruntung dia pernah belajar bisnis yang kelak menjadikan seorang pebisnis sukses. Dan, lebih beruntung lagi ia memiliki tangan dingin di dunia fashion. Dan, klop! Jadilah Ralph menjadi bisnisman fashion sejati.

Seperti dilansir Forbes, Ralph memiliki aset senilai 4,5 miliar USD. Saat ini ia memiliki butik di Amerika, Eropa dan Asia (Cina) yang memajang etalase mimpinya: Ralph Lauren. Seperti dikutip dari website resminya, Ralphlauren.com, Ralph yang gemar mengoleksi mobil mewah ini, mengatakan apa yang dikerjakan Ralph Lauren sampai kini ‘hanyalah’ membawa mimpi-mimpi ke dunia nyata. “Bringing dreams to life…”

Sumber: http://trijayanews.com

Next Previous Home